Ulasan Film: ‘It’

0
41

Apa yang Anda takuti ketika masih berusia anak? Ketakutan itu kadang terasa nyata meski hanya di benak Anda sendiri. Namun dalam It, ketakutan itu benar-benar mewujud nyara: berupa teror si badut penari Pennywise.

Kisah Pennywise si badut menyeramkan sudah melegenda sejak Stephen King mengenalkannya dalam bentuk novel horor pada 1986. Karya novel ke-18 King itu sukses menjadi yang terlaris di masanya.

King, dengan gaya khasnya, menuturkan petualangan tujuh bocah dengan paranoia masing-masing. Mereka ‘hobi’ menyelidiki serangkaian kejadian janggal di kota mereka, Derry, hingga mesti berurusan dengan Pennywise atau Bob Gray.

Teror demi teror yang dibawa Pennywise ke masing-masing anak yang menyebut diri mereka sebagai The Losers Club atau Klub Pecundang itu diangkat menjadi serial televisi pada era 1990.

Serial yang berjudul sama itu pun punya riwayat sukses yang sama dengan novel karya King. Serial berisi dua episode garapan Tommy Lee Wallace yang sekaligus merangkap sebagai penulis itu mendapat penghargaan Emmy Awards untuk komposisi musik yang digunakan.

Kini, Warner Bros Pictures menggaet sutradara Andy Muschietti dan penulis Chase Palmer, Cary Fukunaga, serta Gary Dauberman, untuk kembali mengangkat kisah teror legendaris Pennywise ke layar lebar.

Perubahan dari kisah novel ke layar lebar jadi hal yang tidak mungkin terelakkan, begitu pula pada film ini. Bagi Anda yang membaca kisah asli atau menonton serial televisinya, akan menemukan sejumlah adaptasi dalam film ini.

Namun, adaptasi itu dapat diterima. Bahkan, film It terasa masih segar untuk dibawa ke era modern. Film itu juga membawa ketakutan dan teror Pennywise tampak lebih nyata.

Film It karya Muschietti cs ini dimulai sama persis dengan cerita asli King, meski latar waktu yang digunakan dalam film berbeda dengan yang ada di novel.

Kisah dimulai ketika Georgie Denbrough mengikuti kapal kertas pemberian kakaknya, Bill (Jaeden Lieberher), di tengah hujan deras.

Kapal itu menjadi pengantar si bocah tujuh tahun untuk bertemu Pennywise (Bill Skarsgård) yang hidup di gorong. Sejak itu, Georgie menghilang tanpa jejak.

Setelah sekian lama, Bill masih merindukan dan penasaran dengan yang terjadi dengan adik kesayangannya itu. Banyak orang meyakininya telah meninggal dunia. Tapi Bill masih melakukan beragam cara untuk mencari tahu nasib sang adik.

Apalagi bukan cuma Georgie yang hilang tanpa jejak. Kota Derry memiliki serangkaian catatan akan kehilangan anak, yang anehnya, penduduk seolah ‘terbiasa’ akan hal tersebut.

Di sisi lain, Bill dan anggota The Losers Club yang lain (Richie, Stan, dan Eddie) merasakan gangguan tak berakhir dari Henry Bowers dan gengnya. Mereka kemudian bertemu dengan Mike, Ben dan Beverly yang melengkapi The Losers Club.

Dalam melacak jejak misteri kehilangan anak di kota itu, masing-masing anak pun menghadapi berbagai paranoia mereka, mulai dari mumi, penyakit lepra, hantu, hingga ceceran darah yang muncul dari lubang pembuangan kamar mandi.

Kehadiran The Losers Club dalam film ini menjadi ikon tersendiri karena karakter yang dibawakan apik oleh para pemerannya.

Selama 135 menit, Muschietti menggiring penonton untuk mengikuti alur petualangan The Losers Club yang diselingi kejutan dari Pennywise. Bagi penonton dengan fobia tertentu seperti anggota The Losers Club, mungkin akan merasa sedikit terganggu karenanya.

Kisah asli It dan Pennywise yang dituturkan King tidak mungkin cukup ditampilkan secara utuh di layar lebar selama dua jam.

Alih-alih memotong banyak cerita dan memadatkannya dalam dua jam penayangan, Muschietti melakukan keputusan tepat membagi kisah penuh teror Pennywise menjadi dua bagian.

Pada akhirnya, film horror yang memberikan teror melalui media seperti badut, boneka, dan sejenisnya sudah banyak dilakukan Hollywood. Namun It memberikan sentuhan nostalgia yang segar, terutama ketika kita ketakutan akan sesuatu tanpa alasan saat masih anak-anak.

(Source : CI, DS)

 

LEAVE A REPLY