Badan Lingkungan Hidup Jakarta Utara telah menyelidiki air Sungai Ancol di Jakarta Utara setelah ditemukannya puluhan ikan nila dan ikan lele yang mengambang mati di sungai pada hari Minggu.
Suparman, kepala pengawasan dan kontrol di lembaga itu, mengatakan tes laboratorium diperlukan untuk melihat apakah pencemaran lingkungan menyebabkan kematian.
“Ya, kita akan melihatnya dulu melalui tes laboratorium,” kata Suparman seperti dikutip oleh kompas.com, Senin.
Penjaga gerbang air Ancol, Eko, mengatakan insiden itu adalah yang terburuk dalam tiga bulan terakhir.
“Ini yang terburuk. Tiba-tiba tidak ada aktivitas memancing,” kata Eko.
Eko mengatakan dia menduga kematian itu disebabkan oleh air yang terkontaminasi, melihat warna air.
“Ini mungkin disebabkan oleh limbah. Warnanya hitam,” katanya.
Tepian sungai Ancol adalah lokasi penangkapan ikan yang populer, terutama pada akhir pekan, katanya.
Suparman mengatakan tes laboratorium mengenai kualitas air di Sungai Ancol mungkin memakan waktu 10 hingga 15 hari.
Suparman menambahkan bahwa Sungai Ancol sendiri tidak terpapar limbah bahan beracun atau berbahaya (B3).
“Polusi melalui limbah B3 sebagai penyebabnya tidak benar karena tidak ada kawasan industri [di sini]. Di Ancol, sebagian besar sampah berasal dari rumah tangga, ”kata Suparman. (Jpost)

LEAVE A REPLY