Pertagas Niaga Pasok Gas ke Industri Kuala Tanjung

0
230

PT Pertagas Niaga memasok gas sektor industri di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Gas tersebut dipasok ke konsumen dengan menggunakan truk.

Presiden Direktur PT Pertagas Niaga, Linda Sunarti mengatakan,‎ ‎upaya pemenuhan kebutuhan energi khususnya gas, untuk industri di Sumatera Bagian Utara (sumbagut) terus dilakukan Pertamina melalui afiliasinya.

Industri tersebut adalah PT Domas Agrointi Prima, salah satu lini usaha Bakrie Group. Perusahaan ini menjadi perusahaan pertama di Kuala Tanjung yang mengonsumsi gas alam cair (Liqufied Natural Gas/LNG) dengan moda transportasi truk isotank (LNG trucking).

“Pertengahan Februari ini, kami sudah berhasil mengirimkan LNG ke PT Domas Agrointi Prima,” ujar ‎kata Linda, di Jakarta.

Linda mengungkapkan, pasokan gas tersebut diperoleh dari sumur minyak dan gas bumi (migas) Indonesian Deep Water Development (IDD) Bangka yang dioperatori Chevron, kemudian diubah menjadi LNG di Bontang yang kemudian dikapalkan menuju fasilitas regasifikasi Lhokseumawe, Aceh.

Selanjutnya LNG ini disalurkan melalui Filling Station di PT Perta Arun Gas ke truk isotank LNG berukuran 40 feet (0,76 MMSCF), kemudian diantarkan langsung ke kawasan industri di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

“Setidaknya butuh 16 jam untuk menempuh perjalanan 470 km dari Lhokseumawe menuju Kuala Tanjung,” ujar Linda.

Linda mengatakan, LNG trucking merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan LNG ke ‎industri yang belum tersambung jaringan pipa gas distribusi. Dia mengklaim, Pertamina sebagai pelopor penggunaan LNG trucking tersebut.

“Moda LNG trucking ini adalah yang paling tepat sebagai bridging sebelum mereka mendapatkan gas melalui jaringan pipa distribusi. Dan Pertamina merupakan pelopor pertama di Indonesia,” ungkap Linda.

Pasokan gas melalui LNG trucking ini bukanlah kali pertama dilakukan oleh Pertagas Niaga. Sebelumnya pola yang sama telah dilakukan bagi industri di Kawasan Industri Medan III, Pulau Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur. Selain industri, LNG trucking juga dimanfaatkan oleh PLN untuk kebutuhan pembangkit listrik.

“Tren ke depan suplai gas di Indonesia akan menggunakan LNG supaya dapat menjangkau wilayah-wilayah terpencil. Ini dilakukan agar ada pemerataan energi di seluruh wilayah Indonesia,” jelas Linda.

Proyek LNG trucking telah dirintis oleh PTGN sejak 2015. Diperkirakan hingga akhir 2018, kebutuhan konsumen untuk menggunakan LNG trucking sebesar 5.000 MMSCF yang akan disuplai melalui titik Arun dan Bontang. “Rencananya dalam waktu dekat Pertamina juga akan menambah titik suplai LNG di Pulau Jawa,” tutur Linda.

Sebelumnya, PT Pertamina Gas (Pertagas), anak usaha PT Pertamina (Persero), menargetkan laba bersih sebesar US$ 116 juta di 2018. Angka ini naik dibanding realisasi laba bersih tahun lalu US$ 141 juta.

Target laba bersih tahun ini tidak memasukkan kontribusi dari dua anak usaha, yakni PT Perta Arun Gas dan PT Perta Samtan Gas.

“Perta Arun dan Perta Samtan akan masuk ke holding (Pertamina). Itu untuk memudahkan secara konsolidasi. Kami bersama Pertagas Niaga tetap menjadi satu kesatuan,” ujar Suko Hartono, Direktur Utama Pertagas, dalam Diskusi Energi and Mining Editor Society (E2S) bertema “Outlook Industri dan Gas 2018” di Bogor, Jawa Barat, Sabtu 2 Februari 2018.

Perta Arun dan Perta Samtan merupakan dua dari empat anak usaha Pertagas. Dua anak usaha lainnya adalah PT Pertagas Niaga dan PT Perta Daya Gas. Perta Arun dan Perta Samtan tercatat dua anak yang memberikan kontribusi terbesar bagi laba bersih Pertagas.

Pada 2017, Perta Samtan tercatat membukukan laba bersih US$ 26,7 juta dan Perta Arun mencetak laba bersih US$ 24,6 juta. Selain itu, Pertagas Niaga memberikan kontribusi laba bersih US$ 9,3 juta dan Perta Daya sebesar US$ 644 ribu. Sisanya, sekitar 67 persen, berasal dari laba bersih Pertagas sendiri.

(Source: L6)

LEAVE A REPLY