Pasca Kudeta, Turki Kembali Buka Pangkalan Udara Incirlik

0
327

Setelah sempat ditutup menyusul percobaan kudeta militer yang gagal akhir pekan lalu, pangkalan udara Incirlik di Turki yang digunakan sebagai markas untuk jet tempur AS untuk menggempur ISIS di Suriah dan Irak.

“Setelah berkoordinasi dengan sekutu kami, Turki, mereka telah membuka kembali ruang udara mereka untuk pesawat militer. Sehingga, operasi udara koalisi melawan ISIL [ISIS] di semua pangkalan udara Turki telah dibuka kembali,” bunyi pernyataan Pentagon.

Sebagai salah satu sekutu utama AS di kawasan tersebut, Turki mengizinkan AS menggunakan pangkalan udara Incirlik untuk memudahkan serangan udara menggempur ISIS di Irak dan Suriah. Namun, misi serangan udara AS sempat ditutup sementara oleh menyusul percobaan kudeta pada Jumat (15/7).

Menteri Luar Negeri AS John Kerry sebelumnya mengungkapkan bahwa ia sudah berbicara dengan menteri luar negeri Turki tiga kali sejak Sabtu (16/7).

“Mereka meyakinkan saya bahwa tidak akan ada gangguan terhadap kampanye kami melawan ISIL kami,” kata Kerry, menggunakan sebutan lain untuk ISIS, dikutip dari Reuters.

Kerry mengatakan bahwa sulitnya pesawat AS untuk mengakses Incirlik mungkin karena terdapat dugaan bahwa sejumlah pesawat yang digunakan para pendukung kudeta sempat menggunakan pangakalan udara itu untuk mengisi bahan bakar.

Dalam wawancara dengan NBC dalam program “Meet the Press” pada Minggu, Kerry ditanya apakah Presiden Turki Tayyip Erdogan akan menggunakan percobaan kudeta itu untuk memperkuat kekuasannya.

Kerry menjawab bahwa jika Erdogan melakukan hal itu maka ini akan menjadi tantangan untuk hubungannya dengan Eropa, dengan NATO dan pihak lainnya.

“Kami mendesak mereka untuk tidak bertindak terlalu jauh yang akan menciptakan keraguan soal komitmen mereka terhadap proses demokrasi,” katanya.

Tuduhan terhadap Gulen

Erdogan menuding rivalnya, Fethullah Gulen, mendalangi upaya kudeta. Sementara Gulen, yang saat ini tinggal di pengasingan di Pennsylvania, AS, membantah tuduhan tersebut.

Kerry menyatakan ia tidak memiliki bukti saat ini bahwa Gulen berada di balik upaya melengserkan Erdogan itu. Namun, Kerry mendesak pemerintah Turki untuk menyusun bukti secepat mungkin sehingga Amerika Serikat dapat mempertimbangkan permintaan Turki untuk mengesktradisi Gulen.

Gulen sendiri mengaku tidak khawatir untuk diekstradisi, jika pemerintah AS mengabulkan permintaan Turki itu. Gulen juga balik menuding Erdogan berada di balik kudeta, yang menurutnya, bisa saja direkayasa.

“Ini bukan pola upaya kudeta,” kata Gulen melalui seorang penerjemah dalam wawancara di kediamannya.

Gulen adalah warga Turki, seorang mantan imam, penulis sekaligus tokoh politik. Pria 75 tahun ini membentuk gerakan politik keagamaan bernama gerakan Gulen, atau yang dikenal dengan nama Hizmet di Turki.

Mengasingkan diri dari Turki, Gulen adalah kawan yang berakhir menjadi lawan bagi pemerintahan Erdogan. Kongsi kedua tokoh ini pecah tahun 2013 saat kasus korupsi mendera keluarga dan para pendukung Erdogan di pemerintahan dan kepolisian.

Erdogan membantah tudingan tersebut dan menuduh Gulen berada di balik fitnah korupsi terhadap dirinya.

Gulen kemudian kabur ke AS, upaya Turki mendeportasinya belum membuahkan hasil.

(Source : CI, DS)

LEAVE A REPLY