‘No Bra Day’ di Mata Penyintas Kanker Payudara

0
440

Hari yang bertepatan dengan 13 Oktober selalu diperingati sebagai No Bra Day atau Hari Tanpa Bra Dunia.

Dunia memperingati hari tanpa aksesori keseharian kaum hawa ini dengan tujuan meningkatkan kesadaran orang akan bahaya kanker payudara.

Namun ada pandangan lain tentang ide membebaskan payudara dari penyangganya tersebut. Seorang survivor atau penyintas kanker payudara justru beranggapan bahwa perayaan tersebut melenceng dari tujuan awal.

Penyintas kanker payudara bernama Bonnie Annis menuliskan kisahnya sendiri di laman  Cure. Ia didiagnosa mengidap ancaman terbesar kaum hawa itu, sejak 2014.

“Ketika terdiagnosa, saya berusia 56 tahun dan kedua payudara saya diangkat. Karena saya memilih untuk tidak rekonstruksi, saya terpaksa menggunakan bra dengan dua prostesis silikon,” tulis Annis.

“Payudara buatan ini membuat saya kembali seperti wanita. Tanpa mereka, dada saya mirip dada anak-anak, datar,” lanjutnya.

Annis bukan tidak tersiksa menggunakan bra. Rasa sesak yang biasa dikeluhkan wanita saat menggunakan penyangga payudara tersebut juga ia rasakan. Maka ia kadang melepas bra ketika berada di lingkungan keluarga.

Namun saat ia harus keluar rumah, bra pun menjadi sebuah keharusan yang tak dapat dimungkiri. Ia tidak mungkin menggunakan prostesis tanpa bra, bila ia ingin terlihat ‘normal.’

“Saya tidak mengerti mengapa melepas bra dalam sehari dapat meningkatkan kesadaran akan kanker payudara. Bagi saya, itu hanya memberikan kesempatan pria bermain mata dan wanita untuk saling menertawakan,” tulis Annis.

“Bagi kami yang pernah mengalami pengangkatan payudara, bra itu bagai ‘tak acuh tapi butuh.’ Sulit menyerukan protes tanpa bra dan publik tidak bisa menerima wanita dengan dada rata,” lanjut Annis.

“Bila ingin meningkatkan kesadaran terhadap kanker payudara, saya menyarankan Hari Telanjang Dada. Agar pria dan wanita yang mengalami kanker payudara dapat berbagi penderitaan mereka dengan memungkinkan orang lain melihat bekas luka tersebut.” kata Annis.

Sementara itu, dunia medis serta beberapa penelitian menemukan fakta bahwa menggunakan bra berdampak nyata dan bermanfaat bagi tubuh.

Melansir IFLScience, penelitian yang dilakukan Centre Hospitalier Universitaire di Besancon, Prancis, terhadap 330 wanita usia 18 hingga 35 selama 15 tahun menunjukkan pengaruh penggunaan bra secara fisik.

Penelitian tersebut juga menunjukkan penggunaan bra sejak dini tidak berpengaruh pada pembentukan dada, mengurangi sakit punggung, atau mencegah kendurnya payudara.

Bahkan para peneliti menemukan bahwa jaringan payudara, terutama pada wanita muda, akan tumbuh lebih baik bila tidak mengenakan bra. Peneliti menemukan fakta bahwa wanita yang berhenti menggunakan bra, payudaranya lebih terangkat dibandingkan mereka yang masih mengenakan bra.

Penelitian lainnya di Inggris menunjukkan hal serupa. Melansir Daily Mail, penelitian terhadap 100 wanita pra-menopause oleh University Hospital of Wales di Cardiff dan Frenchay Hospital Bristol mendapati jumlah hari bebas sakit naik tujuh persen pada wanita yang tidak mengenakan bra.

Peneliti meminta responden untuk beraktivitas tanpa bra selama tiga bulan dan dengan bra tiga bulan kemudian untuk direkam perbedaannya.

Namun pendapat lain dari Breast Cancer Care menyebutkan bahwa banyak penelitian sanggup menakuti wanita gara-gara sebagian besar di antaranya menggunakan bra. Sehingga mereka menyarankan para wanita perlu hati-hati dalam menyikapi masalah terkait bra.

LEAVE A REPLY