Mobil Listrik dan Indonesia yang Jauh Tertinggal

0
171

Norwegia kini memiliki 100.000 unit mobil listrik yang beroperasi di jalan raya negara nordik tersebut, demikian laporan yang disampaikan badan perdagangan setempat.

Mobil ramah lingkungan itu telah melindungi Norwegia dari sekitar 200.000 ton emisi CO2 per tahun, di mana kadar emisi akan terus diturunkan hingga 400.000 ton pada tiga tahun ke depan.

Norwegia jadi negara keempat terbesar setelah Amerika Serikat, China dan Jepang yang telah menggunakan armada listrik dalam keseharian layaknya kendaraan berbahan bakar fosil.

Lantas di mana posisi Indonesia? Memang sulit untuk membandingkan dalam kelas yang sama, Indonesia dengan negara-negara itu. Tampaknya kehadiran mobil listrik datang lebih cepat dari dugaan dan Indonesia seharusnya bersiap diri. Namun, jangankan mobil listrik, hingga kini Indonesia masih tarik ulur dalam menerapkan standarisasi bahan bakar Euro 4.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto menilai meski belum terlalu ramai di Indonesia, lambat laun kendaraan bermuatan baterai itu akan segera meramaikan di tanah air.

“Ya kita pasti akan mengikuti itu. Indonesia akan booming mobil listrik,” kata Jongkie.

Meski demikian jika melihat persiapannya, Indonesia bisa menunggu lebih lama bahkan dengan negara tetangga.

“Sekarang yang mesti dipikirkan adalah, sarana dan prasarananya. Indonesia harus mempersiapkan diri. Misalnya mobil listrik, mobil listrik perlu apa? Charging station, charging-nya di mana? Kalau tidak ada, bagaimana orang mau pakai mobil listrik?” ujar dia.

Gaikindo menilai, pihaknya belum melihat ada kemauan pemerintah untuk mulai mempersiapkan, setidaknya lewat kebijakan yang terkait dengan pengurangan emisi kendaraan, apalagi menuju mobil listri.

“Ini jelas menghemat BBM, kedua tidak ada polusi. Jadi indonesia mengarah ke sina. Tapi sarana dan prasarana harus ada, listrik juga. Jadi masih banyak lah yang harus dikerjain oleh pemerintah kita,” kata dia.

Tak Mungkin Dibendung

Kehadiran mobil listrik barang tentu membebani kebutuhan energi nasional. Namun, arah yang dilakukan Presiden Joko Widodo untuk membangun 35 ribu megawatt bisa jadi preseden yang baik.

Pabrikan otomotif bisa turut serta pada pembangunan stasiun pengisian listrik untuk kendaraan. Itu dengan cara gabungan pabrikan mobil untuk ikut membiayai agar tidak sepenuhnya menjadi beban pemerintah.

Jongki mengungkapkan, bisa dicontoh perusahaan jasa telekomunikasi yang menggunakan tower bersama untuk beberapa provider.

“Misalnya tower bersama. Awalnya masing-masing sewa lahan di gedung bertingkat. Tapi akhirnya bergabung membentuk tower bersama. Buat satu tower dipakai bersama. Itu bisa diterapkan di stasiun pengisian baterai.”

Bagi dia, tepat atau tidaknya Indonesia di sasar pelaku industri otomotif teknologi terbaru hanya tinggal menunggu waktu. Indonesia, yang cenderung lebih banyak sebagai penonton ketimbang pemain otomotif di dunia, hanya tinggal menunggu waktu kehadiran mobil listrik.

“Kita tidak bisa menolak itu. Tren dunia akan masuk ke Indonesia juga. Tinggal masalah waktu. Kapan? 10 tahun lagi? atau mungkin ima tahun lagi,” kata dia.

(Source : CI, DS)

LEAVE A REPLY