Menggali kehidupan batin Janis Joplin

0
546

Mungkin seluruh dunia tahu bahwa Janis Joplin meninggal dunia karena overdosis heroin di tahun 1970.
Namun ada sesuatu yang mungkin Anda tak tahu dan baru terungkap ketika menonton film dokumenter berjudul Janis: Little Girl Blue.
Setahun sebelum kematiannya, Janis tak pernah memakai narkoba lagi. Ia berhenti dan bertahan selama lebih dari enam bulan.
Pria yang dicintainya, seorang pengembara budaya-tanding, telah meninggalkannya karena heroin.
Namun ketika ia meninggalkan obat-obatan di belakangnya, ia menciptakan musik terbaik sepanjang kariernya, musik yang diberkahi dan mengguncang jiwa (Get it While You Can, Me and Bobby McGee) yang dimasukkan ke dalam album Pearl, album yang diedarkan sesudah kematiannya.
Ketika proses rekaman hampir selesai, Janis ingin merayakan, dan ketika itulah ia kambuh, mengambil lagi jarum suntiknya di kamar hotelnya.
Sehari sesudah kematiannya, sepucuk telegram dari kekasihnya ditemukan di meja kamar: sang pacar ingin sekali kembali kepada Janis. Namun sang legenda ini tak pernah membaca pesan itu.
Intim dan menyayat hati

“Panjangnya putaran hanya 92 menit, tapi film itu demikian hidup, intim dan menyayat hati.”

Anda bisa merasa tergetar melihat film dokumenter yang subjeknya tidak Anda ketahui.
Namun ada sesuatu yang khusus dan terasa kaya serta kepuasan tersendiri melihat film dokumenter tentang seseorang yang Anda kenal baik dan di akhir film Anda merasa kenal dekat sekali orang itu dalam imajinasi Anda. Ia seperti terlahir kembali.
Janis: Little Girl Blue, disutradarai oleh Amy Berg (pembuat film dokumenter yang juga membuat West of Memphis dan Deliver Us From Evil), adalah jenis film seperti itu.
Panjangnya hanya 92 menit tetapi bisa menarik penontonnya ke dalam biografi yang ajaib, hidup, intim dan menyayat hati. Film ini memperlihatkan kesedihan -perasaan benci terhadap diri sendiri- yang membayangi Janis Joplin.
Di saat yang sama ia bisa begitu gembira dan salah satu hal yang diungkapkan oleh film itu, Janis yang dikenal sebagai seorang hippie yang cabul, membungkus dirinya dengan jaket kulit ular dan bicara dengan gaya 1960-an, merupakan sebuah kreasi yang palsu: sebuah samaran dari seorang perempuan yang canggih dan pandai bicara.
Mungkin inilah kenapa ia amat dekat dengan Dick Cavett, seorang pembawa acara bincang yang membuat penampilan Janis seperti sedang adu rayuan.
Amy Berg mewawancara Cavett, yang pura-pura malu ketika ditanya apakah ia dan Janis pernah tidur bersama, tapi jelas bahwa keduanya punya lebih dari apa yang bisa dilihat oleh budaya saat itu.
Potongan hati
Dalam era ketiga kehidupan seorang bintang musik pop selalu dalam pajangan, seorang pembuat film dokumenter menggunakan cara-cara baru untuk masuk ke dalam bahan-bahan arsip yang normalnya dipakai untuk biografi dalam bentuk tulisan.
Film dokumenter Kurt Cobain baru-baru ini, Montage of Heck, merupakan sebuah upaya masuk ke dalam pikiran melalui buku catatan Cobain, gambar-gambarnya ketika muda dan rekaman video rumahan.
Amy, film dokumenter tentang Amy Winehouse menggunakan “harta karun” berupa rekaman video yang melampaui cangkang luar dan maskara tebal penyanyi itu, membuat Anda merasa melihat Amy Winehouse jauh dari apa yang Anda kenal.
Dalam Little Blue Girl, Berg membawa sesuatu yang tak bisa dibandingkan: ia menggunakan sejumlah besar foto-foto awal dan tulisan dari catatan harian Janis Joplin (dibacakan oleh musisi Cat Power) untuk mencipatakan potret intim Janis yang memiliki jiwa bebas yang tak taat aturan.
Tumbuh di kota pertanian di Texas di tahun 1950-an, Janis remaja diolok-olok lantaran tampangnya dan tak ada yang romantis tentang posisinya sebagai “orang buangan”.
Ini membuatnya takut. Ada sebuah klip yang bagus sekali memperlihatkan Joplin, sebagai seorang musisi rock, kembali ke reuni sekolah dan ketika ia bicara kepada wartawan ia tak bisa melampaui rasa perih di hatinya.

Janis: Little Girl Blue menyatakan,seandainya Janis Joplin masih hidup, musiknya akan terus berjaya.”
Pindah ke San Fransisco, Janis bergabung dengan band Big Brother and the Holding Company dan penampilan pertamanya adalah pada Monterey Pop Festival.
Inilah ketika sejumlah besar penonton pertama kali mengalami drama dari lenguhannya, berteriak dengan agung di atas panggung.
Janis: Little Girl Blue merupakan sebuah pengakuan dari kekuatan prima perempuan yang ia bawa ke dunia melalui rock ‘n’ roll. Dan bagian dari kekaguman film ini adalah penampilan konsernya yang tidak terlalu liar, lebih terkontrol dan ekspresif.
Kita melihat Janis yang perfeksionis di studio rekaman, berdebat dengan rekan satu bandnya tentang bagaimana membentuk lirik seperti lagu Summertime.
Berg mewawancara anggota Big Brother (termasuk Sam Andrew yang paling dekat dengan Janis, dan baru saja meninggal dunia awal tahun ini) dan ini menjadi pengakuan yang menggetarkan mengenai karya dan geliat tersembunyi yang terjadi dalam pembentukan 1960-an sebagai sebuah era.
Ketika Joplin berhenti dari band itu di tahun 1968, itu merupakan momen yang tepat baginya untuk pergi dan berkembang, tapi juga jadi membuatnya terombang ambing.
Hanya pada tahun 1970, dengan membuat album Pearl sebagai artis solo dan bekerja keras melawan ketergantungan pada heroin ia berhasil menemukan dirinya sendiri.
Little Girl Blue memperlihatkan jika Joplin masih hidup, musiknya akan terus berjaya.
Saya rasa itu benar, tapi sebagian dari melankoli dan mitologi tentang Janis Joplin dan kariernya yang terpotong secara tragis, terasa sudah komplet sekalipun sesungguhnya seakan seperti baru saja dimulai.

(source bbc)

LEAVE A REPLY