Lima Spesies Hiu Berjalan Ternyata Huni Indonesia

0
135

Tentu saja ikan hiu berenang, namun sembilan spesies yang baru diteliti ini ternyata memiliki cara unik untuk bergerak. Mereka ‘berjalan’ menggunakan sirip-siripnya.

Kolaborasi penelitian Conservation International (CI) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Western Australian Museum, dan California Academy of Science mengungkap ada sebanyak sembilan spesies yang mereka namakan walking shark atau hiu berjalan.

Apa bedanya dengan hiu pada umumnya yang mengarungi lautan?

Hiu berjalan ini bergerak seperti melata dengan bantuan sirip-siripnya untuk berjalan di dasar laut.

Dari pernyataan resmi yang diterima, kelompok hiu berjalan secara taksonomi sering disebut dengan hiu bambu (bamboo shark) dan termasuk dalam genus Hemiscyllium.

Menariknya, perairan Indonesia menjadi habitat hiu berjalan. Dari sembilan spesies, lima di antaranya berhasil diidentifikasi berada di perairan Indonesia.

Empat spesies endemik atau hanya ada di Indonesia adalah Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (H. galei), Hiu Berjalan Halmahera (H. halmahera), dan Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (H. henryi).

Sementara satu spesies lain yakni H. trispeculare bisa ditemukan di perairan Aru Maluku, namun ia juga bisa ditemukan di pantai utara dan barat kawasan Australia.

Para spesies hiu berjalan tersebut biasa ditemukan di perairan dangkal dan mudah ditemukan pada malam hari karena warna kulit yang cukup mencolok.

Hiu berjalan Hemiscyllium freycineti sudah ditemukan dari lama, yakni sekitar tahun 1824 silam. Kemudian H. henryi ditemukan di perairan Kaimana pada 2008, disusul H. galei yang kala itu mendiami Teluk Cendrawasih. Sedangkan H. halmahera ditemukan di 2013 di perairan Halmahera.

Pemantauan secara berkala yang dilakukan CI di perairan Papua Barat ini mengantarkan mereka pada kesimpulan bahwa hiu berjalan sifatnya terancam lantaran daerah sebaran yang terbatas.

Dalam arti lain, spesies unik ini bisa saja ditangkap secara tidak bertanggung jawab, terkena tumpahan minyak, peningkatan suhu, hingga bencana alam seperti tsunami dan pembangunan wilayah pesisir.

Di sisi lain, Marine Program Director CI Indonesia Victor Nikijuluw menyatakan, hiu berjalan ini bisa menjadi daya tarik pariwisata.

“Menggenjot aktivitas laut seperti snorkeling atau berperahu di perairan dangkal, hiu berjalan akan mudah dijumpai. Karena spesies ini mudah ditemukan, sebaiknya tidak diganggu ketika sedang berwisata di pesisir agar keberadaannya tidak terancam,” ucap Nikijuluw.

Ia juga menambahkan, penting menjaga kelestarian alam dengan tidak merusak terumbu karang yang menjadi esensi penting bagi habitat hiu berjalan.

Dari penuturan Nikijuluw, CI akan terus bekerjasama dengan pemerintah daerah dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam melakukan penelitian serta upaya konservasi spesies unik ini.

(Source : CI, DS)

LEAVE A REPLY