Faisal Basri Ungkap Sejumlah Kejanggalan Proyek Kereta Cepat

0
329
To go with Indonesia-Japan-China-investment-rail,FOCUS by Olivia Rondonuwu This photo taken on August 13, 2015 shows Indonesian models with scale models of Chinese-made bullet trains on exhibition at a shopping mall in Jakarta. China and Japan are locked in an increasingly heated contest to build Indonesia's first high-speed railway, with the Asian giants sweetening deals and turning up the charm as time runs out to woo Jakarta. AFP PHOTO / Bay ISMOYO

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengkritisi keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akhirnya tetap merestui pembangunan proyek kereta cepat dengan rute Jakarta-Bandung meski dikerjakan tanpa uang negara.

Faisal menuding proyek yang ditaksir menelan investasi US$5,5 miliar tersebut sarat kepentingan pribadi dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, yang diketahui menjadi penghubung Indonesia guna menjaring investasi dari China.

“Sebut saja ada Rini Soemarno. Urus deal-nya kok bukan Pak Jonan (Menteri Perhubungan)? Ada keanehan-keanehan yang harus disingkap supaya jelas,” ujar Faisal di kantor PT PLN (Persero) Pusat, Jakarta, Jumat (22/1).

Faisal mensinyalir, penunjukkan China Railway International Co Ltd sebagai kontraktor dalam proyek tak lepas dari adanya pinjaman China kepada beberapa bank pelat merah seperti PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk pada tahun lalu.

Selain itu, mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini juga menyoroti pembentukan konsorsium empat BUMN dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang nantinya akan menjadi mitra China Trailway dalam pengerjaan jalur kereta 142 kilometer.

Meski diklaim tak akan menggunakan Anggaran Penerimaan Negara dan Belanja Negara (APBN), namun Faisal mencium bahwa konsorsium tersebut akan tetap mengeluarkan kocek perusahaan yang diperoleh dari mekanisme Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Saya tidak suka akal-akalan seperti begitu. Jadi, perlu dipertanyakan reputasi Rini Soemarno,” kata Faisal.

Berangkat dari hal ini, ia pun meminta Jokowi mengevaluasi kembali rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditargetkan bisa selesai pada 2019 mendatang.

Sebab dia menilai keputusan Presiden melanjutkan proyek kereta cepat lantaran mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut tak memperoleh informasi yang utuh mengenai analisa pengadaan jalur kereta cepat.

“Saya itu pendukung Pak Jokowi dan Presiden kita tidak bodoh. Tapi berikan informasi karena prosesnya tidak jelas. Sumber informasinya itu ada yang salah informasi sehingga presiden putuskan itu dengan informasi yang kurang lengkap,” imbuh Faisal.

(source: cnn)

LEAVE A REPLY