Delapan Kapal Pesiar China Akan Berlayar di Laut Sengketa

0
443

Setidaknya delapan kapal pesiar China akan menawarkan wisata pelayaran ke kawasan Laut China Selatan selama lima tahun ke depan. Langkah ini sejalan dengan janji Beijing untuk mempromosikan pariwisata demi menguatkan klaimnya di perairan yang disengketakan dengan sejumlah negara lain.

Harian milik pemerintah China, China Daily melaporkan bahwa Sanya International Cruise Development Co Ltd, perusahaan patungan milik COSCO Shipping, China National Travel Service (HK) Group Corp dan China Communications Construction Co Ltd, akan membeli lima hingga delapan kapal pesiar.

Perusahaan itu juga akan membangun empat dermaga kapal pesiar di Sanya, sebuah kota wisata di provinsi selatan Pulau Hainan, China.

CEO Sanya International Cruise, Liu Junli, menyatakan bahwa perusahaan tengah mengoperasikan kapal pesiar “Dream of the South China Sea” dan berencana untuk menambah dua kapal pesiar lainnya pada musim panas mendatang.

Sejumlah kapal itu akan melakukan perjalanan ke gugusan pulau Crescent, yang merupakan bagian dari Kepulauan Paracel, dan juga “mempertimbangkan pelayaran di sekitar Laut China Selatan pada waktu yang tepat,” kata Liu.

Untuk mendukung wisata pelayaran, akan dibangun juga sejumlah hotel, vila dan toko di gugusan pulau Crescent.

Belum jelas apakah warga asing dibolehkan mengikuti wisata pelayaran ini atau mengunjungi fasilitas yang akan dibangun China di kawasan sengketa itu.

China mengklaim 90 persen kawasan Laut China Selatan, yang diduga kaya energi, dengan sembilan garis putus, atau nine-dashed line. Klaim China tumpang-tindih dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam, Taiwan serta Indonesia di perairan Natuna.

Negara-negara yang mengklaim wilayah di Laut China Selatan mencoba mendorong kehadiran warga sipil di kawasan itu. China pertama kali mengirimkan kapal pesiarnya ke sejumlah pulau di Paracel pada 2013.

Akhir Mei lalu, Beijing juga mengatakan ingin mengubah beberapa pulau di kawasan Laut China Selatan menjadi resor ala Maladewa, terbuka bagi para wisatawan untuk menggelar pernikahan maupun sebagai destinasi berlibur.

China juga menolak mengakui keputusan pengadilan arbitrase permanen pekan lalu yang menampik klaim teroritorial China di Laut China Selatan.

(Source : CI, DS)

LEAVE A REPLY