Celana Jin dan Busana yang Tak Lekang oleh Waktu

0
179

Di antara sejumlah busana yang bertahan sepanjang zaman dan tak lekang oleh waktu, celana jin atau jeans adalah salah satunya.

Ditengarai sudah ada sejak abad ke-19, jin melewati berbagai masa dari mulai perang dunia, populer lewat film di masa Marlon Brando, naik ke atas panggung Britney Spears hingga kini tren yang dihadirkan oleh para label atau desainer celana jin selalu membuat takjub dan menggembirakan.

Baru-baru ini, Levi’s salah satu dari sejumlah merek jin ternama dunia di samping Diesel, Wrangler, Guess, Calvin Klein, dan Lee, mengeluarkan lagi produk terbaru mereka, yang terinspirasi dari tren 1960-an, bertajuk Orange Tab.

“Pada masa itu, adalah masa pemberontakan. Orang-orang berdandan dengan bebas, tidak lagi kaku,” kata Adhita Idris, Divisi Marketing Levi’s saat mengenalkan adaptasi jin terbarunya di Jakarta.

Adhita melihat tren fesyen saat ini lebih cenderung ke arah vintage sehingga Orange Tab yang lahir pada 1969 dianggap sesuai. Koleksi ini pun dibuat lebih kekinian dengan bahan dan potongan agak berbeda. Apabila dulu bahan denim kaku, kini dibuat lebih elastis atau stretch. Selain itu, era 1960-an marak dengan potongan jin lebar namun kini potongan dibuat skinny.

“Saat itu identik dengan warna cerah, dan itu yang dihadirkan pada jin kali ini,” tambahnya.

Menilik pada sejarahnya, pada era 1950-an hingga awal 1960-an, jin begitu populer berkat film Rebel Without The Cause yang dibintangi oleh James Dean dan Marlon Brando.

Dilansir dari Fashion In Time, film ini bercerita soal pemberontakan remaja. Para pemainnya mengenakan jin yang dipadu dengan kaos putih dan jaket kulit. Jin pada masa ini menjadi simbol pemberontakan remaja.

Tak lekang oleh waktu 

Celana jin, seperti juga jenis busana lain di dunia mode selalu berkembang. Beda masa, beda pula trennya yang dipengaruhi kondisi sosial politik maupun penemuan teknologi baru.

Perang Dunia II memengaruhi gaya busana pada era 1940-an. Keperluan senjata untuk perang meningkat sehingga pabrik-pabrik baju beralih fungsi menjadi pabrik pembuatan senjata. Bahkan bahan pembuatan kain wool dipakai untuk mendanai perang, lalu muncul produk-produk sintetis seperti stoking dan pakaina dalam dari bahan nilon. Busana era itu kebanyakan bernuansa hitam, cokleat dan biru tua.

Kondisi politik yang tidak menentu akibat perang Vietnam yang berkepanjangan dan terbunuhnya Presiden John F. Kennedy pada 1963 serta arus informasi yang makin massif memicu gerakan anti pemerintah yang biasa disebut kaum Hippie. Busana mereka tidak lepas dari warna-warna mencolok, potongan longgar, dan celana baggy atau cutbray.

Ketika arus fesyen terus berubah seiring apa yang terjadi di masyarakat, jin menjadi satu ikon fesyen yang terus ada hingga kini. Bukan hal yang tidak mungkin bila di tiap almari pakaian, setidaknya ada satu potong jin di dalamnya.

“Jin itu mudah beradaptasi, setiap orang bisa memodifikasi jin sesuai dengan apa yang diinginkan,” ujar Daniel Sjogren, Country Manager Levi’s beralasan kenapa jin selalu ada dan melewati zaman.

Menurutnya, orang dapat berekspresi lewat jin yang mereka pakai. Apalagi, dengan raw denim atau denim langsung jadi tanpa proses lanjutan atau post-treatment, pemakai jin bisa bebas bereksperimen. Selain itu, bahan denim yang kuat membuat denim tetap awet, bahkan sampai bertahun-tahun.

Adaptasi jin bisa nampak pada potongannya. Di era awal kemunculannya, jin dibuat longgar dan panjang karena kebutuhan petambang. Musik heavy metal yang keras diwakili dengan jin sobek atau ripped jeans.

Tidak hanya pada potongan, jin juga beradaptasi dari segi bahan. Jin dulu kaku dan sangat ketat ketika dipakai. Kini, dengan perkembangan teknologi, jin dapat dibuat dengan bahan denim yang mudah melar atau stretch sehingga lebih nyaman dipakai.

(Source : CI, DS)

LEAVE A REPLY