Brexit Berpotensi Dongkrak Harga Jual Fesyen Inggris

0
392

Pemungutan suara akhirnya memutuskan bahwa Inggris keluar dari Uni Eropa. Referendum British Exit (Brexit) ini tentu saja berdampak pada banyak hal, salah satunya dunia mode Inggris.

Mengutip Esquire, bagi penggemar mode Inggris, perubahan ini bisa mengguncang industri fesyen Inggris hingga mencapai nilai fantastis US$38 miliar.

Seperti dilaporkan Elle, British Fashion Council melakukan survei terhadap anggotanya dan menemukan bahwa mayoritas anggota (90 persen) ingin tetap berada di Uni Eropa. Ada sekitar 500 desainer yang membuka survei elektronik dan menanggapinya.

“Ada dukungan luar biasa dari desainer kami bagi Inggris untuk tetap ada di Uni Eropa, dan tak diragukan lagi bakal ada rasa marah dan cemas terhadap hasil yang ada saat ini yang akan berpengaruh pada jangkauan teman, mitra, dan rekan bisnis di Eropa,” kata Caroline Rush, Chief Executive British Fashion Council.

“Kami sekarang memiliki peran untuk bermain dan menjaga pemerintah agar mendapat informasi terbaru tentang prioritas industri dan menjaga komunitas desainer juga punya informasi terbaru tentang kemungkinan dampak bisnis saat Inggris bersiap meninggalkan Uni Eropa pada tahun-tahun mendatang.”

Desainer Christopher Bailey dari Burberry mengungkapkan juga ketidaksetujuan Brexit. “Inggris akan jadi lebih kuat, lebih aman dan lebih baik kalau tetap jadi anggota Uni Eropa,” katanya.

Masalah terbesar yang paling jelas akan dihadapi industri fesyen akibat referendum Brexit adalah ekonomi. Hanya dengan mengumumkan referendum Brexit pada Februari, nilai tukar mata uang Inggris jatuh ke level terendah selama tujuh tahun terakhir dibanding dolar. Menurut HSBC, Brexit bisa berarti penurunan lagi sebanyak 20 persen.

Hal ini membuktikan bahwa merek busana Inggris akan memiliki nilai produksi yang lebih mahal. Akibatnya, konsumen akan menanggung harga yang lebih mahal lagi untuk membeli merek busana dari Inggris, misalnya Burberry dan Topshop.

Bagaimana dengan merek busana mewah di Inggris? Penurunan nilai mata uang terhadap Euro bisa jadi bencana. Hal ini bisa terjadi karena banyak merek fesyen high end fesyen seperti Prada dan LVMH di produksi di Italia dan negara lain di Eropa. Artinya, biaya produksi yang tinggi akan mencekik produsen fesyen dan konsumen.

Di luar masalah nilai tukar, pengaruh Brexit di industri fesyen Inggris juga menyangkut soal perjanjian perdagangan. Melangkah keluar dari Uni Eropa berarti Inggris harus kembali melakukan negosiasi ulang. Namun ini tak selalu berarti buruk. Ada peta kesuksesan untuk hal ini.

Norwegia adalah negara non Uni Eropa yang menikmati hasil menguntungkan dalam perdagangan global. Inggris pun bisa meniru langkah Norwegia.

Rumor lain yang beredar, industri fesyen Inggris juga harus memikirkan soal hak paten dan merek dagang mereka. Saat ini mungkin Brexit tak akan berpengaruh apa-apa, karena sistem yang ada saat ini terpisah dari Uni Eropa.

Namun tahun depan, Uni Eropa akan beralih ke Unitary Patent Scheme, yang memungkinkan pihak mana pun mendapat paten tunggal bagi negara anggota Uni Eropa. Pembatasan semacam ini antara Inggris dan Uni Eropa ini akan menyebabkan desainer Inggris dan label busana kemungkinan dikeluarkan dari hak paten kesatuan tersebut.

Mereka juga kemungkinan akan dikeluarkan dari sistem EU Trade Marks (EUTM). Desainer dan label yang sudah melakukan pendaftaran EUTM ini akan dibatalkan dan tak berlaku lagi. Memang kemungkinan Inggris akan menyiapkan semacam sistem transisi sementara bagi setiap merek fesyen pemegang EUTM. Namun hal ini tentu masih sangat membuat desainer dan label fesyen jadi gelisah karena ketidakpastian navigasi keuangan mereka.

Sayang, Christopher Bailey, Caroline Rush, dan desainer Inggris lainnya tidak mendapatkan keinginan mereka. Mereka harus bersiap untuk mendapatkan skenario terburuk dalam industri fesyen Inggris. Kemungkinannya, merek fesyen Inggris akan mulai menghilang satu per satu atau harga jualnya yang melambung sangat tinggi.

(Source : CI, DS)

LEAVE A REPLY